Akuntansi Syariah

Keberadaan dan peran akuntansi syariah sering dipertanyakan Apakah memang diperlukan akuntansi syariah? Bukankah yang namanya akuntansi (system pencatatan) pada dasarnya sama saja. Kalau berbeda, dimana letak perbedaannya dan mengapa berbeda. Ungkapan pertanyaan tersebut adalah wajar, walaupun tidak seluruhnya benar. Secara sederhana pengertian akuntansi syariah dapat dijelaskan melalui akar kata yang dimilikinya yaitu akuntansi dan syariah. Definisi bebas dari akuntansi adalah identifikasi transaksi yang kemudian diikuti dengan kegiatan pencatatan, penggolongan, serta pengikhtisaan transaksi tersebut sehingga menghasilkan kegiatan laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Definisi bebas dari syariah adalah aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT untuk dipatuhi oleh manusia dalam menjalani segala aktivitas hidupnya di dunia. Jadi, akuntansi syariah dapat diartikan sebagai proses akuntansi atas transaksi-transaksi yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Oleh sebab itu, akuntansi syariah diperlukan mendukung kegiatan yang harus dilakukan sesuai syariah, karena tidak mungkin dapat menerapkan akuntansi yang sesuai dengan syariah jika transaksi yang akan divatat oleh proses akuntansi tersebut tidak sesuai dengan syariah. Untuk lebih mudah memahami manusia di dunia menurut Islam serta ruang lingkup atau dasar-dasar islam, yaitu akidah, syariah, dan akhlak.

Perkembangan pesat dalam kegiatan usaha dan lenbaga keuangan (bank, pasar modal, dana pensiun dan lain sebagainya) yang berbasis syariah. Dalam tiga decade terakhir, lembaga keuangan telah meningkatkan volume dan nilai transaksi berbasis syariah yang tentunya meningkatkan kebutuhan terhadap akuntansi syariah. Selanjutnya perkembangan pemikiran mengenai akuntasi syariah juga semakin berkembang yang ditandai dengan semakin diterimanya prinsip-prinsip transaksi syariah di dunia internasional. Tidak dapat dipungkiri bahwa motor dari penerapan transaksi syariah di dunia internasional memiliki rekam jejak yang panjang. Diawali dengan Mit Ghamr Local Saving Bank di Mesir pada tahun 1963 yang kemudian diambil alih dan direstrukturisasi oleh Pemerintah Mesir menjadi Nasser Sicoal Bank pada tahun 1972. Perkembangan tentang perbankan syariah terus bberlanjut, tidak hanya di Timur Tengah, termasuk pendirian Islamic Development Bank (1975), tetapi juga di Negara-negara Eropa  seperti Luxemburg (1978), Swiss (1981) dan Denmark (1983). Perkembangan yang sama juga terjadi dinegara-negara Asia tenggara yang mayoritas penduduknya beragama islam. Di Malaisya bank syariah pertama kali berdiri pada tahun 1982 sementara di Indonesia baru terjadi 9 tahun kemudian, dengan pendirian Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1991.

 

Anda ingin mendapatkan materi di atas secara full content???, Anda bisa bergabung di Layanan Membership Kumpulan Tugas akhir / skripsi, Tesis, Tugas Kuliah Secara Online dan Full Content. Klik banner di bawah ini:

Share Your Thoughts